02852 2200325 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020001800100082001100118084001700129100001600146245003900162260003100201300002100232500195100253600004702204990002502251990002502276990002502301990002502326990002502351990002502376990002502401990002502426990002502451990002502476990002502501INLIS00000000000034320211202095723 a0010-1221000004ta211202 d h ind  a979-403-046-5 a808.83 a808.83 NAV r1 aNavis A. A.1 aRobohnya Surau Kami /cA. A. Navis aJakarta :bGramedia,c2005 a142 hlm ;c21 cm aCerpen Robohnya Surau Kami ini menceritakan suatu tempat dimana ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Kemudian datanglah seseorang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat untuk menjadi garin atau penjaga surau tersebut, dan hingga kini surau tersebut masih tegak berdiri. Meskipun kakek atau garin dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada hal pokok yang membuatnya dapat bertahan, yaitu dia mau bekerja sebagai pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki, apakah itu berupa uang, makanan, kue-kue, atau rokok. Kehidupan kakek ini sangat monoton. Dia hanya mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah di surau, dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Hasil pekerjaannya itu tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan. Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Ajo sidi adalah seorang pembual yang datang kepada kakek penjaga surau sebelum kakek penjaga surau itu meninggal. Lalu, keduanya terlibat dalam sebuah perbincangan. Pada perbincangan itu, Ajo sidi mengisahkan tentang kejadian Haji Saleh di akhirat ketika dia dimasukkan ke dalam neraka. Haji Saleh tidak menerimanya karena Haji Saleh merasa dia adalah seorang yang rajin beribadah. Tak sekalipun Haji Saleh meninggalkan kewajiban Tuhan. Bahkan setiap waktunya hanya untuk menyembah Tuhan. Kemudian Haji Saleh datang menuntut kepada Tuhan atas semua apa yang dia kerjakan. Ternyata apa yang dikerjakan itu justru salah. Haji Saleh tidak seharusnya hanya mementingkan dirinya sendiri untuk beribadah dan sembahyang setiap waktunya demi masuk surga dan melupakan kewajibannya kepada anak dan isrtinya sehingga jatuh dalam kemelaratan. Itu yang membuat Haji Saleh dimasukkan ke dalam neraka. Padahal di dunia ini hidup berkaum, bersaudara, tetapi Haji Saleh tidak memedulikan mereka sedikit pun. 4aKoleksi Fiksi Lebih dari Satu Kesusastraan a00636/PSMUH/Hib/2005 a00637/PSMUH/Hib/2005 a00638/PSMUH/Hib/2005 a00639/PSMUH/Hib/2005 a00640/PSMUH/Hib/2005 a00641/PSMUH/Hib/2005 a00642/PSMUH/Hib/2005 a00643/PSMUH/Hib/2005 a00644/PSMUH/Hib/2005 a00645/PSMUH/Hib/2005 a00646/PSMUH/Hib/2005