03393 2200241 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020002200100082000800122084001400130100000900144245011200153250001100265260003100276300002800307500272900335600001203064990002503076990002503101990002503126INLIS00000000000071220220810020913 a0010-0822000023ta220810 | 0 ind  a978-979-039-771-2 a900 a900 ANA b0 aAnab1 aBANJIR DARAH :bKisah Nyata Aksi PKI Terhadap Kiai, Santri, dan Kaum Muslimin /cAnab Afifi- Thowaf Zuharon aCet. 1 aJakarta :bIstanbul,c2020 a416 hlm ;c13 x 20,5 cm aBanjir Darah merupakan buku terbaru dari salah satu penulis produktif di Indonesia yaitu Anab Afifi berkolaborasi dengan Thowaf Zuharon. Buku ini adalah karya pertamanya yang bergenre kisah sejarah dan merupakan sebuah kreasi baru dari buku Ayat-ayat yang disembelih yang diterbitkan pada tahun 2015. Buku ini menceritakan tentang Sejarah Partai Komunis Indonesia yang penuh darah kekejaman. Mereka menyiksa, membakar, menyembelih bahkan mengubur hidup-hidup para kiai dan santri, menghasut para kiai dan santri, dan menghasut para petani untuk memberontak serta merampas harta-harta semua golongan yang tidak sepaham komunis. Buku ini menjelaskan lebih dalam tentang kekejaman PKI mulai tahun 1948-1965. Namun lebih menceritakan tentang pembunuhan kepada para Kiai, Ulama, Santri, dan tokoh-tokoh yang berhubungan dengan organisasi Islam oleh PKI. Dibagian pendahuluan penulis menceritakan tentang sebuah surat yang ia kirim pada tahun 2015 untuk Maria Felicia Gunawan. Maria Felicia Gunawan adalah pembawa baki bendera di Istana Negara pada tahun 2015. Surat itu berisi tentang kekejian PKI terhadap Para Kyai, Santri dan Kaum Muslimin di belahan bumi Nusantara. " Jika bukan karena kegigihan para pejuang yang mempertahankan berkibarnya merah putih, barangkali sejak 1948 ketika Ketua Partai Komunis (PKI) bernama Muso memproklamirkan negara komunis bernama Republik Soviet Indonesia di Madiun, Merah Putih itu tak akan kau genggam sekarang. Atau barangkali, jika ulah Muso berhasil, Merah Putih yang kau genggam itu sudah diganti oleh gambar palu arit yang telah berulang kali membuat negeri ini berdarah-darah." (Hal 18). Pada tahun 1948, PKI yang dipimpin oleh Muso menguasai wilayah karesidenan Madiun, Ponorogo, Ngawi, Mantingan, Magetan, dan sekitarnya. Para Kiai, Ulama, Santri serta tokoh-tokoh Islam yang jumlahnya ratusan diculik, disiksa, dibunuh, lalu dimasukkan sumur sempit bahkan disembelih dengan digorok leher, dimutilasi, diganyang dan tak jarang para sasaran PKI yang sulit dibunuh dikubur hidup-hidup lalu ditimbun dengan batu di dalam sumur. "PKI Menyebut terdapat Tujuh Setan Desa yang harus diganyang. Diantara Tujuh Setan Desa yang di identifikasi yaitu para kiai, guru ngaji, santri, lurah atau kepala desa, pedagang, serta pamong praja. Setan-setan itu harus dikutuk dan dibasmi. Pada tahun  1948, mereka telah menjadi sasaran pertama. Diseret , dibacok, dipotong-potong tubuhnya , disembelih, lalu dimasukkan sumur dan kolam-kolam." (hal 334) Tidak hanya itu para PKI  juga merusak sarana ibadah maupun pendidikan yang di miliki umat muslim, mereka akan membantai siapapun yang melawan komunisme. "Masjid dan Madrasah sebagai penopang kekuatan islam juga kubakar". (hal 111) 4aSejarah a01450/PSMUH/Hib/2020 a01451/PSMUH/Hib/2020 a01452/PSMUH/Hib/2020