Cite This        Tampung        Export Record
Judul Berkenalan Dengan Puisi / Prof. Dr. Suminto A. Sayuti
Pengarang Sayuti Prof. Dr. Suminto A.
EDISI Cet. 2
Penerbitan Yogyakarta : Gama Media, 2003
Deskripsi Fisik 404 hlm ;20 cm
ISBN 979-9552-13-3
Subjek Puisi indonesia, sajak indonesia, syair indonesia
Catatan Buku Berkenalan Dengan Puisi ini berisi hal tentang pembelajaran yang menyeluruh mengenai karya sastra yaitu puisi. Tak hanya mengupas materi puisi secara umum, tetapi juga membahas materi secara khusus dan mendalam. Memang apabila dilihat dari luarnya tampilan buku ini sangat sederhana dengan cover atau sampul depan yang sangat simpel. Namun sebenarnya pada buku ini terkandung materi yang sudah komplit mencakup tentang puisi. Di dalamnya terdapat berbagai ilmu yang disajikan secara utuh dengan cara yang sederhana. Suminto A. Sayuti menyajikan buku ini dengan sangat detail dan mudah untuk dipahami terutama untuk kalangan mahasiswa. Bahasa yang digunakan juga sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan materi yang disampaikan dipaparkan secara menyeluruh pada tiap bagian sub babnya. Keseluruhan materi diatur secara rapi dan terstruktur. Sehingga banyak guru atau dosen yang merekomendasikan buku ini sebagai acuan dalam pembelajaran mengenai puisi. Menurut Suminto A Sayuti, (2002 : 3) puisi dapat dirumuskan sebagai “Sebentuk pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek bunyi-bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan sosialnya; yang diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu, sehingga puisi itu mampu membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengar- pendengarnya." Buku ini memperkenalkan berbagai hal yang terkait dengan puisi Indonesia modern yang berisi batasan puisi, dasar ekspresi, teknik ekspresi, bahasa ekspresi, bunyi dan aspek puitiknya, diksi, citraan, bahasa kias, sarana retorik, wujud visual, dan makna. Setelah memahami buku ini diharapkan pembaca dapat mempelajari kemungkinan pada pengembangan dan penerapan lebih lanjut tentang puisi. Puisi merupakan bentuk pengungkapan seorang penyair terhadap perasaannya. Pada dunia puisi tak memiliki batas dalam imajinasinya. Penulis atau pengarang bebas menceritakan apa-apa saja yang mungkin tidak masuk akal sekalipun seperti sihir dan dongeng-dongeng. Hal tersebut menjadi sah-sah saja apabila diceritakan. Di dalam puisi mencakup berbagai macam unsur-unsur yang membangunnya yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik merupakan unsur yang berada dalam sebuah cerita itu sendiri. Unsur ini menjadi jiwa yang berada di dalam cerita yang mencakup tema, tokoh, penokohan,latar, alur, dan sudut pandang pengarang. Sedangkan unsur ekstrinsik merupakan unsur yang mendukung cerita yang berasal dari luar cerita itu sendiri. Unsur ini terlibat secara tidak langsung dalam cerita yang mencakup latar belakang pengarang, biografi pengarang, ideology pengarang, agama atau religious pengarang juga karya sastra lain yang berada di sekitar lingkungan pengarang. Kedua unsur tersebut harus selalu berjalan beriringan. Namun yang paling penting ialah unsur latar yakni unsur yang menunjukkan keberlangsungan cerita. Karya sastra dapat dipahami dengan tiga hal yaitu interprestasi atau penafsiran, analisis atau penguraian, dan evalusi atau penilaian (Simatupang, 1980; Pradopo,1982). Penafsiran suatu karya sastra memang seringkali menemui banyak makna. Hal ini dikarenakan pada penafsiran suatu karya sastra, pembaca diperbolehkan untuk mengimajinasikan secara bebas dalam pikirannya. Sehingga timbullah banyak makna dari sebuah puisi itu sendiri. Untuk mencegah melebarnya suatu makna dalam puisi, diberlakukanlah cara yaitu analisis. Suatu karya puisi yang dianalisis akan lebih tertata rapi dalam pemaknaannya. Analisis dilakukan dengan penggunaan analisis struktur fisik mencakup bunyi, bahasa kias, sarana retotik, wujud visual, dan juga tipografinya. Ditambah juga dengan analisis struktur batinnya. Sehingga dalam pemaknaan suatu puisi akan lebih tepat sasaran dalam pemaknaan. Puisi memberikan ruang bagi penulis untuk mengekspresikan dirinya dan sekaligus menyampaikan pesan secara tersurat dalam sebuah teks. Hal tersebut juga dapat memicu timbulnya sifat apresiasi. Apresiasi sastra adalah upaya memahami karya sastra, yaitu upaya bagaimana cara untuk dapat mengerti sebuah karya sastra yang kita baca, baik fiksi maupun puisi, mengerti makanannya, baik yang intensional maupun yang aktual, dan mengerti seluk-beluk strukturnya. Apresiasi sastra itu merupakan upaya “merebut makna” karya sastra (Teeuw, 1980). Unsur-unsur pembangun puisi , yaitu kata, larik , bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut. Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata yang tepat sangat menentukan kesatuan dan keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik. Larik atau baris mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat buat, tapi pada puisi baru tak ada batasan. Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi. Bunyi dibentuk oleh rima dan irama. Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata. Makna adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan. Struktur batin puisi, disebut sebagai hakikat puisi, meliputi tema yaitu inti pokok puisi. Rasa yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang, agama, jenis kelamin, kelas sosial, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyair lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya. Nada yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh pembaca, dsb. Amanat yaitu pesan yang disamaikan penyair. Tujuan tersebut bisa ditemukan pembaca lewat makna yang tersirat maupun tersurat. Pada puisi juga terdapat struktur fisik yaitu sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan rasa puisi. Struktur fisik puisi meliputi tipografi yaitu bentuk pengaturan susunan puisi seperti pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Diksi yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Imaji yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa suasana yang digambarkan penyair dalam puisi. Kata kongkret yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji yang berhubungan dengan kiasan atau lambang. Bahasa figuratif yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan dan menimbulkan konotasi tertentu yang menyebabkan puisi menjadi banyak makna atau kaya akan makna yang disebut juga majas. Majas antara lain simile, metafora, metonimi, personifikasi, ironi, litotes, sinekdok, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks. Versifikasi menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup onomatope yaitu tiruan terhadap bunyi asli. Selain itu ada pula aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak paruh, sajak penuh, dan repetisi bunyi yaitu pengulangan kata pada puisi.
Bahasa Indonesia
Bentuk Karya Puisi
Target Pembaca Remaja

 
No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
00000000532 811 SAY b Dapat dipinjam Perpustakaan Perguruan Muhammadiyah Cipondoh - Perpustakaan Perguruan Muhammadiyah Cipondoh Tersedia
00000000533 811 SAY b Dapat dipinjam Perpustakaan Perguruan Muhammadiyah Cipondoh - Perpustakaan Perguruan Muhammadiyah Cipondoh Tersedia
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000000000328
005 20211117124433
007 ta
008 211117################d##########p#ind##
020 # # $a 979-9552-13-3
035 # # $a 0010-1121000014
082 # # $a 811
084 # # $a 811 SAY b
100 1 # $a Sayuti Prof. Dr. Suminto A.
245 1 # $a Berkenalan Dengan Puisi /$c Prof. Dr. Suminto A. Sayuti
250 # # $a Cet. 2
260 # # $a Yogyakarta :$b Gama Media,$c 2003
300 # # $a 404 hlm ; $c 20 cm
500 # # $a Buku Berkenalan Dengan Puisi ini berisi hal tentang pembelajaran yang menyeluruh mengenai karya sastra yaitu puisi. Tak hanya mengupas materi puisi secara umum, tetapi juga membahas materi secara khusus dan mendalam. Memang apabila dilihat dari luarnya tampilan buku ini sangat sederhana dengan cover atau sampul depan yang sangat simpel. Namun sebenarnya pada buku ini terkandung materi yang sudah komplit mencakup tentang puisi. Di dalamnya terdapat berbagai ilmu yang disajikan secara utuh dengan cara yang sederhana. Suminto A. Sayuti menyajikan buku ini dengan sangat detail dan mudah untuk dipahami terutama untuk kalangan mahasiswa. Bahasa yang digunakan juga sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan materi yang disampaikan dipaparkan secara menyeluruh pada tiap bagian sub babnya. Keseluruhan materi diatur secara rapi dan terstruktur. Sehingga banyak guru atau dosen yang merekomendasikan buku ini sebagai acuan dalam pembelajaran mengenai puisi. Menurut Suminto A Sayuti, (2002 : 3) puisi dapat dirumuskan sebagai “Sebentuk pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek bunyi-bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan sosialnya; yang diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu, sehingga puisi itu mampu membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengar- pendengarnya." Buku ini memperkenalkan berbagai hal yang terkait dengan puisi Indonesia modern yang berisi batasan puisi, dasar ekspresi, teknik ekspresi, bahasa ekspresi, bunyi dan aspek puitiknya, diksi, citraan, bahasa kias, sarana retorik, wujud visual, dan makna. Setelah memahami buku ini diharapkan pembaca dapat mempelajari kemungkinan pada pengembangan dan penerapan lebih lanjut tentang puisi. Puisi merupakan bentuk pengungkapan seorang penyair terhadap perasaannya. Pada dunia puisi tak memiliki batas dalam imajinasinya. Penulis atau pengarang bebas menceritakan apa-apa saja yang mungkin tidak masuk akal sekalipun seperti sihir dan dongeng-dongeng. Hal tersebut menjadi sah-sah saja apabila diceritakan. Di dalam puisi mencakup berbagai macam unsur-unsur yang membangunnya yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik merupakan unsur yang berada dalam sebuah cerita itu sendiri. Unsur ini menjadi jiwa yang berada di dalam cerita yang mencakup tema, tokoh, penokohan,latar, alur, dan sudut pandang pengarang. Sedangkan unsur ekstrinsik merupakan unsur yang mendukung cerita yang berasal dari luar cerita itu sendiri. Unsur ini terlibat secara tidak langsung dalam cerita yang mencakup latar belakang pengarang, biografi pengarang, ideology pengarang, agama atau religious pengarang juga karya sastra lain yang berada di sekitar lingkungan pengarang. Kedua unsur tersebut harus selalu berjalan beriringan. Namun yang paling penting ialah unsur latar yakni unsur yang menunjukkan keberlangsungan cerita. Karya sastra dapat dipahami dengan tiga hal yaitu interprestasi atau penafsiran, analisis atau penguraian, dan evalusi atau penilaian (Simatupang, 1980; Pradopo,1982). Penafsiran suatu karya sastra memang seringkali menemui banyak makna. Hal ini dikarenakan pada penafsiran suatu karya sastra, pembaca diperbolehkan untuk mengimajinasikan secara bebas dalam pikirannya. Sehingga timbullah banyak makna dari sebuah puisi itu sendiri. Untuk mencegah melebarnya suatu makna dalam puisi, diberlakukanlah cara yaitu analisis. Suatu karya puisi yang dianalisis akan lebih tertata rapi dalam pemaknaannya. Analisis dilakukan dengan penggunaan analisis struktur fisik mencakup bunyi, bahasa kias, sarana retotik, wujud visual, dan juga tipografinya. Ditambah juga dengan analisis struktur batinnya. Sehingga dalam pemaknaan suatu puisi akan lebih tepat sasaran dalam pemaknaan. Puisi memberikan ruang bagi penulis untuk mengekspresikan dirinya dan sekaligus menyampaikan pesan secara tersurat dalam sebuah teks. Hal tersebut juga dapat memicu timbulnya sifat apresiasi. Apresiasi sastra adalah upaya memahami karya sastra, yaitu upaya bagaimana cara untuk dapat mengerti sebuah karya sastra yang kita baca, baik fiksi maupun puisi, mengerti makanannya, baik yang intensional maupun yang aktual, dan mengerti seluk-beluk strukturnya. Apresiasi sastra itu merupakan upaya “merebut makna” karya sastra (Teeuw, 1980). Unsur-unsur pembangun puisi , yaitu kata, larik , bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut. Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata yang tepat sangat menentukan kesatuan dan keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik. Larik atau baris mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat buat, tapi pada puisi baru tak ada batasan. Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi. Bunyi dibentuk oleh rima dan irama. Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata. Makna adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan. Struktur batin puisi, disebut sebagai hakikat puisi, meliputi tema yaitu inti pokok puisi. Rasa yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang, agama, jenis kelamin, kelas sosial, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyair lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya. Nada yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh pembaca, dsb. Amanat yaitu pesan yang disamaikan penyair. Tujuan tersebut bisa ditemukan pembaca lewat makna yang tersirat maupun tersurat. Pada puisi juga terdapat struktur fisik yaitu sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan rasa puisi. Struktur fisik puisi meliputi tipografi yaitu bentuk pengaturan susunan puisi seperti pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Diksi yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Imaji yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa suasana yang digambarkan penyair dalam puisi. Kata kongkret yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji yang berhubungan dengan kiasan atau lambang. Bahasa figuratif yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan dan menimbulkan konotasi tertentu yang menyebabkan puisi menjadi banyak makna atau kaya akan makna yang disebut juga majas. Majas antara lain simile, metafora, metonimi, personifikasi, ironi, litotes, sinekdok, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks. Versifikasi menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup onomatope yaitu tiruan terhadap bunyi asli. Selain itu ada pula aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak paruh, sajak penuh, dan repetisi bunyi yaitu pengulangan kata pada puisi.
600 # 4 $a Puisi indonesia, sajak indonesia, syair indonesia
990 # # $a 00501/PSMUH/Hib/2003
990 # # $a 00502/PSMUH/Hib/2003
Content Unduh katalog